CNN Indonesia
Senin, 22 Jun 2026 18:45 WIB
Ilustrasi. Tak selalu buru, melamun juga bisa mendatangkan manfaat. (iStockphoto/m-imagephotography)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah tuntutan hidup yang serba cepat dan penuh distraksi, kemampuan untuk tetap fokus sering dianggap sebagai kunci produktivitas. Tak heran, melamun kerap dicap sebagai tanda kurang konsentrasi, bahkan dianggap kebiasaan buruk yang perlu dihindari.
Lantas, benarkah melamun selalu berdampak negatif?
Mengutip dari Time, aktivitas yang sering dianggap sepele ini justru memiliki peran penting bagi cara kerja otak dan kesehatan mental. Manusia rata-rata menghabiskan sekitar 47 persen waktu sadarnya untuk melamun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenis-jenis melamun
Melamun merupakan fenomena yang lebih kompleks dan tidak selalu buruk, tergantung jenisnya. Berikut jenis-jenis melamun.
1. Melamun negatif
Jenis ini berkaitan dengan pikiran yang berputar pada pengalaman buruk di masa lalu atau kekhawatiran berlebihan tentang masa depan. Misalnya, terus mengingat kejadian tidak menyenangkan atau membayangkan kegagalan.
2. Sulit mengontrol perhatian
Pada kondisi ini, seseorang kesulitan mempertahankan fokus pada satu tugas. Hal ini sering terjadi pada individu dengan gangguan perhatian.
3. Melamun konstruktif positif
Jenis ini justru dinilai bermanfaat, disebut positive constructive daydreaming (PCD). Aktivitas ini melibatkan imajinasi yang positif dan kreatif, seperti merencanakan masa depan atau mencari solusi atas masalah.
Jenis melamun ini berperan penting dalam kreativitas dan kemampuan merencanakan, karena menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kemungkinan di masa depan.
Melamun tak selalu buruk
Ilustrasi. Tak selalu buruk, melamun juga bisa mendatangkan manfaat. (iStockphoto/Delmaine Donson)
Dengan kata lain, melamun tak selalu buruk. Melamun, misalnya, dikaitkan dengan aktivitas bagian otak default mode network (DMN). Nama terakhir merupakan sistem pada otak yang aktif saat pikiran tidak sedang fokus pada tugas tertentu.
DMN berperan dalam refleksi diri, memahami pengalaman pribadi, membangun skenario sosial, hingga merencanakan masa depan.
Penelitian juga menunjukkan, aktivitas ini berkontribusi pada fungsi mental yang sehat, termasuk memori, kontrol impuls, hingga pemrosesan emosi.
Di era digital saat ini, perhatian manusia terus dibombardir oleh notifikasi, informasi, dan tuntutan multitasking. Kondisi ini membuat ruang untuk berpikir secara reflektif semakin sempit. Padahal, melamun, terutama yang bersifat konstruktif, bisa menjadi semacam jeda mental yang membantu otak memproses informasi dan menyusun ulang prioritas.
Meski memiliki manfaat, melamun tetap perlu berada dalam batas wajar. Dikutip dari Harvard Health Publishing, kita mengenal istilah maladaptive daydreaming, yaitu kondisi ketika seseorang melamun secara berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi ini, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam lamunan,kesulitan menyelesaikan pekerjaan hingga menarik diri dari lingkungan sosial.Kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan lain seperti kecemasan, depresi, hingga ADHD, dan dapat menjadi mekanisme pelarian dari tekanan emosional.
Alih-alih sepenuhnya dihindari, melamun mungkin lebih tepat untuk dipahami, kapan membantu, dan kapan mulai mengganggu.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google


















































