161 Ribu Penggilingan Terancam, Amran Bongkar Alasan Harga Beras Naik

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti persaingan antara penggilingan beras kecil dan pemain besar yang dinilai menjadi salah satu persoalan dalam rantai pasok beras.

Ia menyebut terdapat sekitar 161 ribu penggilingan kecil yang kapasitasnya besar, tetapi sebagian kapasitas tersebut tidak termanfaatkan.

Amran mengatakan penggilingan kecil secara total memiliki kapasitas hingga 100 juta ton, sementara beras yang digiling hanya sekitar 65 juta ton. Di sisi lain, penggilingan besar terus membangun kapasitas baru hingga 50 juta ton.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya masalah besarnya ada di sini. Ada penggilingan kecil 161 ribu. Kemudian kapasitasnya 100 juta (ton), padahal yang digiling hanya 65 juta (ton). Artinya ini saja sudah cukup, jangan diganggu. Tetapi yang besar ini membangun sedang dengan besar, membangun kekuatannya 50 juta ton. Jadi kebagian yang kecil ini tinggal 15 juta (ton). Kalau ini beli, ini mati," kata Amran dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9).

Menurut Amran, kondisi tersebut membuat penggilingan kecil berpotensi kehilangan ruang untuk memperoleh gabah. Ia mencontohkan perbedaan harga pembelian gabah yang dapat terjadi di lapangan.

Bos Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu mencontohkan penggilingan besar dapat membeli gabah dengan harga lebih tinggi, dari sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kg. Beras tersebut kemudian dapat dijual kembali sebagai beras fortifikasi dengan harga mencapai Rp26 ribu per kg.

[Gambas:Youtube]

Menurut perhitungannya, selisih tersebut bisa menghasilkan keuntungan sekitar Rp13 ribu per kg.

Amran juga mengaitkan persoalan tersebut dengan temuan beras yang menggunakan label fortifikasi, tetapi berdasarkan pemeriksaan laboratorium disebut tidak mengandung vitamin yang diklaim. Menurut dia, pola tersebut sebelumnya muncul dalam kasus perubahan label beras, dari medium menjadi premium.

"Jadi itu masalahnya tadi. Jadi swasta ini membeli di atas penggilingan kecil, baru menjual dengan label padahal tidak ada. Fortifikasi padahal tidak ada vitaminnya," kata Amran.

Ia mengatakan pihaknya masih memproses temuan tersebut. Pemeriksaan telah dilakukan selama sekitar satu bulan dan data disebut masih dilengkapi sebelum ditindaklanjuti.

Di tengah persoalan harga, Amran juga mengusulkan agar sebagian stok cadangan beras pemerintah (CBP) dapat diolah dan dijual sebagai beras premium. Menurut dia, langkah tersebut perlu dibahas terlebih dahulu dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) agar stok tidak menumpuk di gudang.

"Beras cadangan ini bisa dijadikan premium. Ini kita rakortaskan dulu, setuju, ini bisa berani dan dijual sebagai premium agar tidak numpuk di dalam (gudang). Jadi mutar. Ini justru menguntungkan Bulog. Kalau dulu disimpan aja," ujarnya.

Amran menyebut stok beras pemerintah saat ini mencapai sekitar 5 juta ton. Pemerintah, kata dia, tetap menyerap gabah ketika harga berada di bawah Rp6.500 per kg, sedangkan ketika harga sudah berada di atas level tersebut, penyerapan dihentikan agar swasta kembali bergerak.

"Yang kedua, kita tidak bisa tolak rakyat kalau harga di bawah Rp6.500 pasti berteriak. Makanya diserap. Tapi begitu mencapai di atas Rp6.500 kita berhenti. Swasta yang bergerak," kata Amran.

Sorotan Amran muncul ketika harga beras masih mencatat kenaikan pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp14.213 per kg pada Agustus, naik 1,32 persen dibandingkan Juli.

Harga beras di tingkat grosir mencapai Rp14.901 per kg, sedangkan di tingkat eceran Rp15.641 per kg. Secara tahunan, harga beras di tingkat penggilingan naik 5,52 persen.

Kenaikan harga juga terjadi pada dua kelompok kualitas. Harga beras premium di tingkat penggilingan naik 1,22 persen secara bulanan dan 10,07 persen secara tahunan. Sementara harga beras medium naik 1,48 persen secara bulanan dan 4,03 persen secara tahunan.

Di tingkat eceran, BPS mencatat harga beras naik 0,42 persen secara bulanan dan 2,77 persen secara tahunan pada Agustus.

Sebelumnya, BPS juga mencatat harga beras masih meningkat di sejumlah daerah hingga pekan ketiga Agustus. Sebanyak 132 kabupaten/kota mengalami kenaikan indeks perkembangan harga (IPH) beras.

(del/ins)

Read Entire Article
| | | |