Jakarta, CNN Indonesia --
Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan kembalinya inflasi pada Agustus 2026 menjadi indikator adanya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Destry menjelaskan indikasi tersebut tercermin dari pergerakan inflasi inti (core inflation) yang tetap terjaga dan sedikit naik.
"Jadi kalau kita lihat inflasi inti masih tetap stabil, malah meningkat sedikit, yang artinya ada aktivitas ekonomi dari 2,7 ke 2,9 persen," ujar Destry ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski inflasi inti menunjukkan tren yang baik, Destry menyoroti lonjakan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).
Ia mengungkap komponen harga pangan bergejolak naik dari kisaran 2 persen menjadi 4 persen.
Destry menegaskan menjaga stabilitas harga pangan menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.
BI disebut terus berkoordinasi erat dengan pemerintah pusat dan daerah dalam menjalankan program pengendalian inflasi pangan.
"Jadi PR kita bersama-sama menjaga stabilitas di harga pangan," ujar Destry.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia inflasi 3,19 persen pada Agustus 2026 (year on year/yoy), sementara secara bulanan inflasi tercatat 0,21 persen (mtm).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi bulanan 0,21 persen didorong oleh makanan, minuman dan tembakau yang tercatat 0,57 persen dengan andil 0,17 persen.
Komoditas dominan pendorong inflasi di kelompok tersebut yakni daging ayam ras andil 0,17 persen, kemudian cabai rawit, ikan segar dan juga beras dengan andil masing-masing 0,02 persen serta kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin atau putih dengan andil masing-masing 0,01 persen.
Kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pendorong kedua terbesar ke inflasi sebesar 0,37 persen dengan andil 0,03 persen. Inflasi kelompok ini didorong oleh inflasi emas, perhiasan sebesar 0,75 persen dan andil 0,02 persen.
Sementara, kelompok transportasi tercatat deflasi 0,50 persen dengan andil 0,06 persen. Pendorongnya adalah komoditas tarif angkutan udara dengan andil 0,06 persen. Bensin juga jadi komoditas pendorong deflasi dengan andil 0,03 persen.
Adapun inflasi inti tercatat 0,21 persen dengan andil 0,13 persen. Kemudian, harga diatur pemerintah deflasi 0,33 persen dan andil 0,07 persen.
Selanjutnya, komponen harga bergejolak tercatat inflasi 0,88 persen dengan andil sebesar 0,15 persen. Komoditas dominan dorong inflasi adalah daging, ayam ras, cabai rawit dan beras.
(dhz/ins)

















































