Klarifikasi JK soal Ceramah di UGM, Bantah Lakukan Penistaan Agama

2 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) memberi klarifikasi terkait ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dilaporkan ke polisi.

JK mengatakan apa yang disampaikannya bukan merupakan penistaan agama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan ceramahnya di UGM digelar saat ramadan tahun ini. Ia saat itu diminta menyampaikan ceramah dengan tema perdamaian.

"Acara di UGM itu, acara ceramah bulan puasa seperti dilakukan di mana-mana di masjid. Saya diundang, datang, karena temanya adalah perdamaian. Perdamaian. Jadi khususnya temanya tentang langkah-langkah ke perdamaian," kata JK di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

JK pun mengaku menjelaskan soal apa itu perdamaian dan konflik. Ia juga menjelaskan konflik di dunia dan di Indonesia. Ia kemudian menyinggung konflik di Poso dan Ambon.

"Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena ideologi, ada konflik karena wilayah kayak Tim-Tim, ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu. Kemudian satu menit saja, eh satu dua menit, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso," katanya.

Ia mengatakan saat itu konflik di dua daerah itu berlarut dan tidak ada yang bisa mendamaikan. JK pun saat itu memutuskan untuk turun tangan penyelesaian konflik.

"Benar enggak saya menista agama? Saya damaikan ini, apa saya menista agama? Saya pertaruhkan jiwa saya dengan Hamid, masuk ke daerah yang Anda lihat tadi itu. Masuk ke daerah itu. Tidak ada Menteri, Presiden Gus Dur, Ibu Megawati tidak ada yang bisa," kata JK.

JK mengatakan konflik di dua daerah itu terjadi karena masyarakat berpikir tengah berperang untuk agama. Ada anggapan di antara masyarakat di daerah itu siapapun yang meninggal dianggap syahid atau menjadi martir.

Ia menggunakan kata syahid karena tengah berada di masjid.

"Dia pikir ini perang agama. Siapa yang meninggal akan syahid untuk Islam. Kristen menamainya martir. Tapi sebenarnya saya berada di masjid dan tidak mengerti martir. Yang saya katakan ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma bedanya caranya," kata JK.

"Kalau syahid semua sama, mati karena membela agama. Itu syahid. Martir juga begitu, membela, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja," imbuh dia.

Ia menekankan apa yang disampaikannya bukan tentang dogma dan ideologi agama. Menurutnya, tidak ada ajaran di antara kedua agama untuk saling membunuh.

"Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak. Tentang kenapa mereka saling membunuh? Kenapa mereka saling membunuh? Ada enggak Islam dan Kristen? Tidak ada. Jadi mereka semua melanggar ajaran agama," katanya.

Sebelumnya, DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah organisasi melaporkan JK ke kepolisian.

Ketua Umum GAMKI Sahat Sinurat menyebut pernyataan JK dinilai menyinggung ajaran Kristen dan menimbulkan kegaduhan dalam ceramah di Masjid UGM yang membicarakan konflik Poso dan Ambon. Ia menegaskan ajaran Kristen tidak pernah membenarkan membunuh sebagai jalan menuju surga.

Selain itu, pada 14 April lalu laporan serupa muncul dari Sumut. Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil Sumatra Utara ikut melaporkan JK ke Polda Sumut dengan tuduhan menistakan ajaran agama.

Sementara itu, Menteri HAM Natalius Pigai mendorong penyelesaian polemik melalui dialog, bukan jalur hukum.

"Saya Menteri HAM tidak sepakat dengan laporan polisi terhadap Pak JK. Saya tolak tegas. Terus terang tidak ada manfaatnya juga," ujar Pigai seperti dikutip Antara, Rabu (15/4).

(bac/yoa/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |