Jakarta, CNN Indonesia --
Operator seluler memberikan penjelasan soal sisa kuota internet hangus yang digugat dalam Permohonan Nomor 273/PUU-XXIII/2025 di Mahkamah Konstitusi (MK). Permohonan ini terkait pengujian Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) soal polemik kuota internet hangus.
Telkomsel yang diwakili Vice President Simpati Product Marketing Adhi Putranto menyebut terminologi paket/kuota hangus ataupun penghapusan kuota secara sepihak yang saat ini beredar di masyarakat tidak tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, yang sebenarnya terjadi adalah berakhirnya hubungan kontraktual dalam penyediaan jasa layanan internet oleh dan antara operator seluler dan pelanggan sesuai dengan volume dan jangka waktu yang sejak awal telah dipilih oleh pelanggan.
"Terminologi paket/kuota hangus ataupun penghapusan kuota secara sepihak yang saat ini beredar di masyarakat menurut hemat kami tidak tepat," ujar Adhi di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta, Kamis (16/4), dikutip dari laman resmi Mahkamah Konstitusi.
Secara teknis, sisa volume atas hak akses terhadap jaringan telekomunikasi yang tidak digunakan pelanggan juga tidak memungkinkan untuk disimpan, dialihkan, dan dikumpulkan, sehingga tidak mungkin digunakan atau diperjualbelikan kembali oleh operator seluler. Dengan demikian, operator seluler tidak memperoleh keuntungan tambahan dari sisa volume data yang tidak digunakan pelanggan dalam jangka waktu tertentu yang telah dipilih oleh pelanggan.
Adhi menjelaskan pelanggan juga diberikan kebebasan untuk memilih opsi layanan internet sesuai dengan kebutuhan dan daya belinya masing-masing.
Jika paket atau kuota jasa layanan internet yang telah dipilih pelanggan volumenya telah mencapai maksimal dan/atau jangka waktunya telah berakhir, maka pemberian jasa akses dan layanan internet yang sebelumnya didedikasikan untuk pelanggan terhadap kapasitas jaringan juga menjadi berakhir.
"Berakhirnya masa berlaku paket bukan merupakan pengambilan dan/atau pengurangan manfaat secara paksa, melainkan konsekuensi dari selesainya durasi akses yang telah disepakati oleh pelanggan," tuturnya.
Lebih lanjut, Adhi menjelaskan yang sebenarnya diberikan kepada pelanggan adalah jasa berupa hak akses terhadap kapasitas jaringan untuk volume dan periode tertentu.
Kapasitas jaringan tersebut tidak pernah berpindah menjadi milik pelanggan, melainkan tetap dikelola oleh operator seluler sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi.
Dengan kata lain, pemaknaan bahwa paket atau kuota internet yang telah dibeli kemudian menjadi hak milik pelanggan dalam arti kebendaan atau komoditas adalah tidak tepat.
Operator seluler tidak bertindak untuk memperjualbelikan barang berbentuk paket atau kuota internet yang setelah dibayarkan lalu beralih menjadi hak milik pelanggan.
Sebaliknya, operator seluler bertindak sebagai penyedia jasa telekomunikasi yang memberikan akses dan layanan agar pelanggan dapat masuk dan memanfaatkan kapasitas jaringan yang diperoleh dan dikelola oleh operator seluler.
Hal yang sama disampaikan pula oleh Vice President Head of Prepaid Product & Pricing Strategy Indosat Nicholas Yulius Munandar.
Nicholas mengatakan kapasitas jaringan yang digunakan Indosat untuk menyediakan layanan internet seluler tidak bersifat tunggal, melainkan merupakan hasil integrasi dari berbagai elemen teknis yang saling bergantung.
Elemen teknis tersebut di antaranya spektrum frekuensi radio yang merupakan sumber daya terbatas; base transceiver station (BTS) sebagai titik akses radio bagi perangkat pelanggan; dan radio access network yang menghubungkan perangkat pelanggan dengan jaringan operator.
Kemudian, ada juga transport network yang mengalirkan trafik data dari jaringan akses ke jaringan inti; core network yang mengelola pengolahan data, autentikasi, routing, dan pengendalian layanan; pusat data (data center) sebagai tempat penyimpanan dan pengolahan data serta aplikasi pendukung layanan; serta sistem pengelolaan jaringan serta sistem pendukung operasional lainnya yang memastikan seluruh komponen tersebut dapat berfungsi secara terpadu.
Ia menyebut seluruh elemen ini memerlukan investasi yang sangat besar, baik dalam tahap pembangunan awal maupun dalam tahap pengembangan dan pemeliharaan berkelanjutan.
Selain itu, pengelolaan jaringan juga memerlukan perencanaan teknis yang cermat, termasuk dalam hal proyeksi trafik, distribusi beban jaringan, serta peningkatan kapasitas secara bertahap.
"Oleh sebab itu, Indosat wajib mengelola kapasitas jaringannya secara optimal, terukur, dan berkelanjutan, agar dapat menjamin ketersediaan layanan, menjaga kualitas pengalaman pelanggan, serta memastikan bahwa seluruh pelanggan dapat memperoleh akses tanpa menimbulkan gangguan pada jaringan secara keseluruhan," jelas Nicholas.
(lom/dmi)
Add
as a preferred source on Google


















































