Jenis Masker yang Bisa Menyaring Asap Karhutla

1 hour ago 4

CNN Indonesia

Jumat, 21 Agu 2026 07:30 WIB

Ilustrasi masker wajah Ilustrasi. Beberapa jenis masker bisa digunakan untuk melindungi dari asap karhutla. (iStock/Bebenjy)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Jenis masker menyaring asap karhutla menjadi informasi penting ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan kualitas udara memburuk. Asap karhutla tidak hanya terdiri atas satu jenis zat, tetapi merupakan campuran gas, partikulat, dan uap yang dapat berdampak terhadap kesehatan.

Paparan asap dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan serta memperburuk gangguan pernapasan pada sebagian orang. Karena itu, penggunaan masker dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi paparan, terutama ketika seseorang terpaksa beraktivitas di luar ruangan.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak ada satu jenis masker atau respirator yang dapat melindungi tubuh dari seluruh komponen gas yang terdapat dalam asap kebakaran hutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jenis masker yang bisa digunakan saat asap karhutla

Melansir Kementerian Kesehatan, masker dan respirator pada dasarnya dirancang untuk mengurangi paparan partikulat atau partikel yang terdapat di udara. Kemampuan perlindungannya pun berbeda-beda, tergantung jenis masker, bahan, desain, hingga cara penggunaannya.

Berikut beberapa jenis masker yang perlu diketahui bisa membantu menyaring asap kebakaran hutan:

1. Masker N95

Masker N95 merupakan salah satu pilihan yang paling baik untuk mengurangi paparan partikel asap ketika seseorang memang harus berada di luar ruangan dalam kondisi asap pekat.

Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), respirator N95 dirancang untuk menyaring setidaknya 95 persen partikel uji berukuran sekitar 0,3 mikrometer dalam kondisi pengujian standar. Angka 95 pada N95 menunjukkan efisiensi filtrasi terhadap partikel dalam kondisi tersebut, bukan berarti masker dapat menyaring 95 persen seluruh komponen asap karhutla.

Perlindungan N95 juga sangat bergantung pada cara pemakaiannya. Masker harus terpasang rapat di wajah sehingga tidak banyak celah antara masker dan kulit. Penggunaan yang tidak tepat dapat membuat kemampuan perlindungannya berkurang.

N95 juga memiliki keterbatasan. Masker ini dapat terasa kurang nyaman, terutama jika digunakan dalam waktu lama. Penggunaan N95 sebaiknya mengikuti petunjuk produsen dan diganti ketika sudah kotor, rusak, atau tidak lagi dapat terpasang dengan baik.

2. Masker bedah

Masker bedah atau masker medis lebih banyak dirancang untuk membantu mencegah percikan droplet dan penyebaran kontaminan dari pemakainya. Masker ini bukan respirator dan tidak memiliki fungsi yang sama dengan N95.

Masker bedah tidak memberikan perlindungan optimal terhadap partikulat halus dari asap karhutla karena biasanya tidak menutup wajah serapat respirator. Masih terdapat celah di sekitar hidung dan pipi yang memungkinkan sebagian partikel masuk.

Meski demikian, jika hanya masker bedah yang tersedia, penggunaannya tetap dapat menjadi pilihan daripada tidak menggunakan pelindung sama sekali. Hanya saja, perlindungannya terhadap partikulat asap tidak setara dengan respirator yang terpasang dengan baik.

3. Masker kain

Kemampuan masker kain dalam menyaring partikulat sangat bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh bahan, jumlah lapisan, desain, dan kesesuaian masker dengan bentuk wajah.

Masker kain yang longgar atau memiliki banyak celah tidak dapat memberikan perlindungan optimal terhadap partikel halus dari asap karhutla. Masker yang hanya dililitkan pada wajah juga tidak memberikan perlindungan yang dapat diandalkan.

Karena itu, masker kain bukan pilihan utama untuk menghadapi paparan asap karhutla. Jika tetap digunakan, masker perlu diganti apabila sudah basah, kotor, atau rusak.

4. Respirator P100 dan jenis lainnya

Selain N95, terdapat berbagai jenis respirator seperti N100, R95, R100, P95, dan P100. Huruf dan angka pada respirator menunjukkan karakteristik serta tingkat efisiensi filtrasi tertentu.

Sebagai contoh, respirator P100 memiliki efisiensi filtrasi sebesar 99,97 persen terhadap partikel uji dalam kondisi pengujian tertentu. Namun, penggunaan respirator dengan tingkat filtrasi lebih tinggi tidak serta-merta berarti lebih sesuai untuk semua orang atau semua kondisi.

Untuk masyarakat umum, pilihan respirator yang digunakan perlu mempertimbangkan kebutuhan, kenyamanan, kemampuan memasang masker dengan benar, serta kondisi kesehatan masing-masing.

(tis/tis)

placeholder

Read Entire Article
| | | |