Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bertindak makin keluar batas dengan mengunggah video menunjukkan tempat untuk menghukum gantung warga Palestina.
Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, menteri ekstrem kanan itu mengunggah video bernada kemenangan yang memperlihatkan pembangunan kompleks yang nantinya menjadi tempat menghukum mati warga Palestina yang dinyatakan bersalah atas pelanggaran terorisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya, hukuman ini sangat spesifik yang hanya menargetkan warga Palestina, tetapi tidak bagi ekstremis Yahudi yang mungkin melakukan hal serupa.
Dikutip The Guardian, Ben-Gvir, mengatakan fasilitas eksekusi baru tersebut akan dilengkapi dengan ruang khusus bagi keluarga korban untuk menyaksikan proses eksekusi.
Menteri yang telah menjadi sasaran sanksi internasional itu mengunggah video di media sosial saat mengunjungi tempat tersebut tanpa menyebutkan lokasinya.
Ia terlihat menunjuk fondasi bangunan yang sedang dikerjakan dan membanggakan bahwa tempat tersebut akan menjadi lokasi "para teroris akan dieksekusi".
Foto-foto yang dimuat media Israel juga memperlihatkan sebuah buldoser dan pekerjaan konstruksi besar-besaran di area yang dipagari, yang dilaporkan berada di dekat sebuah penjara.
"Saya berjanji akan memperburuk kondisi para teroris di penjara, kami telah melakukannya," kata Ben-Gvir dalam video tersebut.
"Saya berjanji akan mengesahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Teroris, kami telah melakukannya. Dan sekarang hukuman mati serta fasilitas tiang gantungan juga mulai dibangun."
Laporan mengenai pembangunan tiang gantungan tersebut muncul setelah pengesahan undang-undang baru pada awal tahun ini. Undang-undang tersebut mewajibkan pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati sebagai satu-satunya hukuman bagi warga Palestina yang dicap melakukan terorisme, kecuali jika pengadilan menemukan keadaan khusus yang memungkinkan hukuman penjara seumur hidup.
Warga Israel keturunan Yahudi pada praktiknya terlindungi dari hukuman mati ini melalui ketentuan yang hanya menerapkan undang-undang tersebut terhadap pembunuhan yang dilakukan dengan "niat untuk menyangkal keberadaan negara Israel".
Sebagai salah satu tokoh utama yang mendorong undang-undang hukuman mati baru ini, Ben-Gvir memiliki sejarah soal mengeluarkan pernyataan ekstrem dan melakukan provokasi. Ia merayakan ulang tahunnya yang ke-50 pada Mei dengan hadiah kue ulang tahun yang dihiasi gambar jerat algojo dari lapisan gula.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ben-Gvir juga menjadi sasaran sanksi dari Prancis dan Irlandia, setelah sanksi Inggris yang diberlakukan terhadapnya tahun lalu.
Ia juga menuai kecaman luas hanya beberapa hari lalu setelah menyerukan kebijakan membunuh 30 hingga 40 warga Gaza setiap malam sebagai hukuman.
"Saya pikir kita seharusnya melakukan 30 hingga 40 pembunuhan terarah setiap malam," kata Ben-Gvir.
"Bukan hanya mereka yang menimbulkan ancaman langsung. Ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup ... Mereka bahkan bukan manusia."
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, pada Rabu menyebut komentar Ben-Gvir sebagai "tidak dapat diterima dan tidak manusiawi", sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan ia sangat mengecam "seruan tidak manusiawi yang disampaikan Menteri Ben-Gvir, yang melanggar hukum internasional".
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut komentar Ben-Gvir "mengerikan", "keterlaluan", "mendehumanisasi", dan "berbahaya".
(rds)


















































